Palembang – Hujan yang mengguyur Palembang kembali menyisakan sejumlah persoalan banjir yang merendam sejumlah titik permukiman dan jalan utama. Bagi sebagian warga, genangan air bukan lagi kejadian musiman, melainkan rutinitas yang terus berulang tanpa solusi yang jelas. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar tentang efektivitas sistem drainase kota yang dinilai belum mampu menampung debit air saat hujan deras.
Yani (39), warga kelurahan 5 ulu, mengaku sudah terbiasa menghadapi banjir setiap kali hujan turun lebih dari satu jam. “Air bisa sampai lutut, masuk ke dalam rumah. Kami sudah capek, tapi tidak tahu harus mengadu ke mana lagi,” ujarnya. Ia menilai saluran air di lingkungannya kerap tersumbat dan jarang dibersihkan secara menyeluruh, sehingga memperparah genangan.

Keluhan serupa disampaikan Nuril (42), warga Kecamatan Sako. Menurutnya, pembangunan kota yang pesat tidak diimbangi dengan perbaikan sistem drainase yang memadai. “Jalan memang diperbaiki, tapi saluran airnya kecil. Akhirnya air meluap ke jalan,” katanya. Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik yang terlihat, tetapi juga pada infrastruktur dasar yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Selain faktor teknis, sebagian warga juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sampah yang dibuang sembarangan dinilai menjadi salah satu penyebab utama tersumbatnya saluran air. “Kalau masih buang sampah ke selokan, ya percuma juga. Ini harus sama-sama diperbaiki,” ujar Dedi (45), warga Seberang Ulu.

Meski demikian, warga tetap menyimpan harapan agar persoalan banjir ini bisa segera diatasi. Mereka menginginkan langkah konkret, mulai dari normalisasi drainase, perbaikan sistem aliran air, hingga edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Bagi warga Palembang, kota yang berkembang bukan hanya soal pembangunan megah, tetapi juga tentang kenyamanan hidup yang bebas dari banjir setiap kali hujan turun. (Dharma Jusuf Bhatoen)




